250_250_sejarah_detector.jpg

Mengenal Metal Detektor

Jika mendengar istilah metal detector , pasti yang terlintas di pikiran kita adalah sebuah alat untuk mendeteksi adanya kandungan metal (besi, stainless, dan jenis logam lainnya) pada suatu objek. Biasanya juga dipakai untuk sistem keamanan di bandara, gedung kenegaraaan, hotel, dll. Ya itu benar, tapi, pernahkah kita memikirkan bagaimana sih sebenarnya cara kerja dari metal detector itu? Untuk apa saja digunakan metal detector tersebut? dan apa saja yang komponen utama dari metal detector tersebut?

 


Sebelum mengenal lebih jauh mengenai metal detector , ada baiknya kita terlebih dahulu membahas sekilas mengenai sejarah metal detector. Menjelang akhir abad ke-19, banyak ilmuwan dan insinyur menggunakan pengetahuan mereka untuk mengembangkan teori kelistrikan dalam upaya untuk merancang sebuah alat untuk yang dapat mendeteksi metal. Rancangan awal metal detector ini membutuhkan daya yang besar, sehingga hanya dapat bekerja pada tingkat yang terbatas.

 


Alexander Graham Bell pernah menggunakan metal detector untuk mendeteksi peluru yang bersarang di dada presiden Amerika Serikat pada masa itu yaitu James Garfield (tahun 1881). Metal detector  berfungsi sebagaimana mestinya, namun upaya tersebut tidak berhasil karena metal pada spring bed tempat presiden berbaring mengganggu proses pendeteksian. Perkembangan modern dari detektor logam dimulai pada tahun 1920. Gerhard Fisher telah mengembangkan sistem radio direction-finding, yang akan digunakan untuk navigasi yang akurat.



Sistem ini bekerja sangat baik, tapi Fisher menyadari bahwa ada anomali di daerah di mana terkandung biji besi. Dia beralasan bahwa jika sinar radio dapat terdistorsi oleh logam, maka sudah pasti bisa untuk merancang sebuah mesin yang dapat mendeteksi logam dengan menggunakan pencarian beresonansi kumparan pada frekuensi radio. Pada tahun 1925 ia diberikan hak paten pertama untuk detektor logam. Meskipun Gerhard Fisher adalah orang pertama diberi paten untuk detektor logam, namun yang pertama menerapkannya adalah untuk Shirl Herr, seorang pengusaha dari Crawfordsville, Indiana.

 


Aplikasinya untuk metal detector  portable tersembunyi yang diajukan pada bulan Februari tahun 1924, tetapi tidak dipatenkan sampai Juli 1928. Penemuan Herr itu digunakan oleh Admiral Richard Byrd II dalam Ekspedisi Antartika pada tahun 1933, ketika itu digunakan untuk mencari benda yang ditinggalkan oleh penjelajah sebelumnya. Itu berlaku sampai dengan kedalaman delapan meter.Ini adalah alat yang paling sering ditemui masyarakat belakangan ini sejak merebaknya isu terror bom di Indonesia. Di mana-mana petugas keamanan baik gedung kantor sampai tempat hiburan dan belanja sibuk menenteng-nenteng alat berwarna hitam. Alat ini biasa ditempelkan pada barang bawaan pengunjung. Untuk mengetahui apakah pengunjung membawa barang berbahaya atau tidak. Selain dengan alat semacam pentungan berwarna hitam, kadang pengunjung juga harus melewati sebuah alat yang menyerupai gawang kecil. Bila pengunjung mengantongi perangkat berbahan logam atau metal seperti ponsel, maka alat itu akan berbunyi nyaring sekali. Begitu juga dengan alat berwarna hitam yang
menyerupai pentungan tersebut.