Pintu-Metal-Detektor-Bandara.jpg

Penggunaan Xray dan Metal detektor di Bandara Untuk Menjaga Keamanan Penerbangan

Pemerintah memberlakukan aturan yang lebih ketat tentang barang elektronik di kabin pesawat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap aksi terorisme.

 

Aturan baru yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mewajibkan barang elektronik yang akan dibawa penumpang ke dalam pesawat terbang harus diperiksa dengan ketat. Pemeriksaan terhadap barang elektronik tersebut harus sudah dilakukan di dalam bandara sebelum penumpang naik ke dalam pesawat.

 

Keamanan penerbangan merupakan satu kesatuan dengan keselamatan penerbangan. Untuk itu pengamanan terhadap barang-barang yang berpotensi dapat menganggu keselamatan penerbangan harus diperketat. Termasuk di antaranya terhadap barang elektronik yang akan dibawa ke dalam kabin pesawat, ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara Agus Santoso dalam keterangan pers, Minggu (26/3).

  

Agus menambahkan pengamanan tersebut sudah sesuai dengan Undang-undang no. 1 tahun 2009 tentang Penerbangan. Pengamanan ketat terhadap barang-barang elektronik di dalam kabin dilakukan dalam upaya mengantisipasi aksi terorisme menggunakan perangkat elektronik, jelasnya.

 

Dia mencontohkan tindakan pengamanan yang lebih ketat sudah dilakukan oleh Amerika Serikat, Kanada dan Inggris terhadap beberapa penerbangan maskapai tertentu dari bandara di negara tertentu di Timur Tengah dan Turki.

 

Pengamanan itu termasuk larangan membawa laptop (komputer jinjing) dan barang elektronik yang lebih besar dari telepon genggam (handphone) dalam kabin pesawat.

 

"Namun sampai saat ini Pemerintah Indonesia belum memiliki aturan mengenai larangan membawa laptop dan barang elektronik yang lebih besar dari telepon genggam (handphone) ke dalam kabin pesawat," kata Agus.

 

Untuk saat ini, barang-barang elektronik tersebut boleh dibawa ke kabin namun harus dikeluarkan dari tas dan diperiksa melalui mesin x-ray , paparnya.

 

Dalam sSurat Keputusan Dirjen Perhubungan Udara no. SKEP/2765/XII/2010 disebutkan bahwa laptop dan barang elektronik lainnya dengan ukuran yang sama dikeluarkan dari tas/bagasi dan diperiksa melalui mesin x-ray .

 

Sedangkan Surat Edaran no. 6 Tahun 2016 memberi instruksi kepada semua kepala bandar udara di Indonesia untuk memastikan barang elektronik seperti laptop dan barang elektronik lain harus dikeluarkan dari bagasi atau tas jinjing dan diperiksa melalui mesin pemindai X-raya .


Jika petugas pemeriksa barang (X-ray operator) masih ragu, harus dilakukan pemeriksaan secara manual dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  

1. Pemilik barang menghidupkan perangkat elektronik tersebut
2. Pemilik barang mengoperasikan perangkat elektronik tersebut
3. Personel keamanan penerbangan mengawasi dan melihat hasil pemeriksaan dari perangkat tersebut.

 

Jika kepala bandara tidak melaksanakan ketentuan seperti surat edaran tersebut, akan diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku, tegas Agus.