logo-KEMENDAG.jpg

Dirjen Kemendag Menemukan Modus Terbaru.

Indonesia sekarang ini menjadi tempat sasaran para importir mancanegara dalam menjajakan produk mainan anak. Hal ini mendorong para importir nakal nekat dengan mengambil jalan pintas yaitu memalsukan HS kode mainan tersebut.

 

"Modusnya mereka menggunakan HS Kode yang tidak semestinya diberikan untuk mainan anak," terang Direktorat Jenderal Standarisari dan Perlindungan Konsumen (Dirjen SPK) Kementerian Perdagangan Widodo di Kantor Dinas Koperasi KUMKMP, Jl Perintis Kemerdekaan, Jaktim, Senin (22/12/2014).

 

Seperti yang dijumpai pada mainan berbentuk robot bertuliskan 'Transformers' di salah satu toko di Mall of Indonesia (MOI) saat blusukan siang tadi. Widodo mengungkapkan, desain dan HS Kode yang digunakan importir seharusnya dijual untuk gantungan kunci, namun kenyataannya produk tersebut malah dipasarkan ke toko mainan anak-anak.

 

"(Mereka) Ini mengelabui HS Kode sehingga dia menghindari kewajiban SPPT SNI karena pakai HS Kodenya gantungan kunci. Ini modus operandi baru. Seolah-olah gantungan kunci padahal ini mainan anak," lanjutnya.

 

Dengan begitu, pihak importir bisa meloloskan barang-barang yang hendak dimasukkan ke Indonesia tanpa prosedur pelabuhan yang berbelit-belit. Dengan kejadian ini, Widodo akan segera mengirim surat ke Bea Cukai untuk lebih waspada.

 

"Nanti dibuatkan surat untuk bea cukai. Kita akan cek importirnya dan sesegera mungkin memeriksa mereka," tegas Widodo.

 

Sebelumnya, Kemendag bersama Dinas Koperasi dan UMKM DKI Jakarta sempat blusukan di tiga tempat, yakni Pasar Prumpung-Gembrong, Pasar Asemka dan Mall of Indonesia Kelapa Gading. Dari operasi tersebut, pihaknya mengamankan 647 produk mainan non-SNI.

 

Nantinya setiap mainan yang terdeteksi mesin xray security scanner akan diperiksa dan di cek keaslian mainan tersebut agar tidak adanya lagi para importir nakal yang datang ke Indonesia